Bingung, hampir tiap hari ada aja yang nanyain,
kapan mau merit? dah ada calon belum? sama anak tante mau gak? cantik lho, kaya lagi…
sebenernya, banyak sih yang ku senengin… seperti nikita willy, chelsea olivia, citra kirana, marshanda, sulis, meyda safira, dll… (ngaca leeee.. ngaca….!!!)
hehehe, gak dink… itu cuma orang2 yang ngefans ama aku…
tapi yang jelas, aku ada 4 orang yang kepikiran (kepikiran lho yah)…
dari 4 itu, karena aku mikir orangnya yang sopan, ramah, gak aneh2… yang tersisa cuma 2.
bukannya aku milih2… tapi yang pasti, aku pengen istri yang bisa diajak hidup susah maupun senang,
pastinya bisa bimbing aku ke jalan yang lurus… ya selama ini nyasar mulu sih… :p
jangan dikira aku pilih2 yah… ibarat anda, punya temen deket… yang cerewet, kasar, berantakan, suka keluyuran tengah2 malam, apa anda mau menjadikannya sebagai ibu buat anak2 kelak? beda kalo emang anda bener2 cinta, berharap suatu hari bisa menjadi ibu yang baik bagi anak2.
nah, diantara 2 ini…
Pilih A, apa pilih B?
dimana A = B
aku yakin, mungkin mendiang ibuku juga setuju antara 2 ini.
tarik napas dalam2… jadi inget perkataan ibuku dulu…
“mending dia aja, udah berkerudung, perawat lagi*
huff… itu dulu ma, sekarang udah gak mungkin.
berat buat nentuin pilihan kaya begini.
jadi inget cerita yang ku dapat dari temen…
sek, cari dulu berkas2 lama..
…
…
…
nah nih dia dah nemu… :p
Cinta dan Perkawinan Menurut Plato
Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, “Apa itu
cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya? Gurunya
menjawab, ” Ada ladang gandum yang luas didepan sana.
Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali,
kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu
menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan,
artinya kamu telah menemukan cinta” Plato pun
berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan
tangan kosong, tanpa membawa apapun.
Gurunya bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satupun
ranting?” Plato menjawab, “Aku hanya boleh membawa
satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur
kembali (berbalik)”
Sebenarnya aku telah menemukan yang paling
menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih
menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil
ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih
jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting
yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi,
jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya”
Gurunya kemudian menjawab ” Jadi ya itulah cinta”
Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya,
“Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa
menemukannya?”
Gurunya pun menjawab “Ada hutan yang subur didepan
sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh)
dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan
tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling
tinggi,
karena artinya kamu telah menemukan apa itu
perkawinan”
Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia
kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah
pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi.
Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, “Mengapa
kamu memotong pohon yang seperti itu?”
Plato pun menjawab, “sebab berdasarkan pengalamanku
sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan,
ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi
dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa
tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk
menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau
menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya”
Gurunyapun kemudian menjawab, “Dan ya itulah
perkawinan”
Catatan : Ya, kaya begini yang susah ku terapin… hiks
ntah si A, ntah si B, malah mungkin nanti si Z.
buat sekarang cuma bisa berdo’a aja.
Ya Allah, Jodohku, hidupku, masa depanku sepenuhnya ada ditanganmu…
Jikalau kelak, Istriku adalah orang yang dipandang sebelah mata…
Maka jadikanlah aku mencintainya sepenuh hati,
untuk dapat membimbingku dan anak2ku kelak, lebih mendekatkan diri kepadamu.
Sesungguhnya engkau maha pengasih lagi maha penyayang. Amin.